![]() |
| Foto: Tugu Klewang Anvaal.@Mudin Pase/portalsatu.com |
Buah adalah nama sebuah kemukiman di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara. Terletak di pesisir Selat Malaka. Terdiri dari sembilan desa, yaitu Matang Paya, Cot Laba, Meunasah Pante, Cot Murong, Meunasah Hagu, Meurandeh Paya, Blang Rheue, Lhok Euncien dan Paya Bateung.
Sejarah mencatat, kawasan ini pernah terekam heroiknya perang Aceh. Ada kisah tipu Aceh di Meurandeh Paya. Para pejuang menghabisi 16 dari 17 prajurit marsose. Kejadian 25 Januari 1905, para marsose singgah dan berkemah di meunasah setempat.
Para pejuang Aceh yang menyamar sebagai warga biasa, mereka bergaul dengan marsose itu. Ketika sudah bebas keluar masuk, dalam satu komando menghabisi marsose termasuk komandannya yang berada di atas meunasah. Hanya satu marsose lolos.
Marsose yang tewas kemudian dimakamkan di kota Pantonlabu. Ada prasastinya sampai sekarang yang dikenang Tugu Klewang Anvaal. Di sini juga dikuburkan tentara Belanda korban peristiwa klewang di Simpang Ulim. Kasus Meurandeh Paya kemudian diselidiki Belanda. Ditangkaplah suami Cut Meutia, Teungku Chik Di Tunong. Beliau dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.
Buah memang kawasan gerilya pejuang Aceh masa itu. Pada masa kolonial, di kawasan ini juga terdapat sumur minyak. Sumur ekplorasi minyak mentah perusahaan Belanda itu terletak di batas Gampong Meunasah Pante dengan Cot Murong.
Menurut cerita orang-orang tua di sana, kegiatan ekplorasi berakhir ketika Jepang masuk. Sebelum tahun 1990-an masih tersisa pipa-pipa besi dari dalam tanah di sana. Bahkan tambak-tambak di sekitar sumur selalu tercemar minyak mentah yang keluar sendiri.
Pertengahan 1980-an, sisa-sisa jalan aspal masih ada di sana. Jalan aspal itu dari Keude Sampoiniet sampai ke sumur minyak itu. Tidak diketahui kenapa setelah merdeka sumur minyak ini tidak berproduksi lagi.
Di kawasan itu juga tempat lahirnya seorang petinggi Pertamina masa lalu. Belaiu adalah Drs. Nur Usman. Jabatannya terakhir adalah Direktur Keuangan. Pertengahan 1990-an, ia pensiun dan menetap di sana. Beliau membeli lahan sekitar 100 Ha. Tinggal sendiri dengan para pembantunya. Saat itu beliau memelihara banyak binatang liar. Bahkan di lahan Desa Cot Laba itu berkembang biak rusa.
Saat banjir 1998, rusa-rusa itu musnah dan hanyut. Eskalasi konflik juga membuat pria yang biasa dipanggil Abu Nu itu kembali ke Jakarta. Sampai kini rumahnya itu terbengkalai.
Abu Nu adalah anak seorang ulama yang bergelar Teungku Lhok Euncien. Nama ini kemudian menjadi nama masjid Kemukiman Buah. Masjid di Cot Murong itu diberi nama Masjid Baitul Munawarah Teungku Lhok Euncien. Oleh masyarakat, ulama ini sampai sekarang masih dianggap keramat. Kuburan beliau di Lhok Euncien sampai sekarang masih diziarahi. Banyak pupanji (kain putih) bergantungan di kuburan itu. Masyarakat di sana sampai sekarang percaya beliau bisa menangkap peluru meriam Belanda.
Dalam legenda turun-menurun di sana, ketika perang Belanda, para pejuang Aceh berkumpul di Buah. Belanda di sebrang sungai yaitu Kemukiman Lapang. Peluru meriam yang ditembak Belanda dari Lapang ditangkap Teungku Lhok Euncien dan dibuang ke laut. Begitulah salah satu legenda Buah di masa prang Belanda dulu.
Salah satu anak Teungku Lhok Euncien bernama Hasbi, pernah menjadi Bupati Aceh Timur. (Bersambung).[]
Source :PortalSatu
Source :PortalSatu

Abu Nu dan Abu Hasbi Cucu Tgk Lhok Euncien, mereka anak Abu Usman.
ReplyDelete